"Kalau saja waktu itu, aku nggak ketemu dia lagi, mungkin semuanya nggak bakal seperti ini, Ra," kilahmu dua tahun silam di hadapanku hingga air mata ini tak kuasa bersembunyi lebih lama lagi. Omong kosong. Persetan denganmu. Aku sudah muak. Sudah setahun berlalu dan semenjak kita memutuskan ikatan benang merah itu, tak lagi beredar kabar di timeline sosial mediaku tentangmu. Tidak, aku tidak memblokirmu. Tidak, kamu pun demikian. Kamu tidak memblokirku. Lantas bagaimana aku tahu bahkan setelah aku menghapus akun lamaku untuk kemudian membuat akun yang baru? Bagaimana aku bisa tahu kalau kamu tidak memblokir pertemanan kita di dunia maya? "Mbak, jadi gini, daripada Mbak menghapus akun instagram itu, mending aku aja yang urus. Gimana? Aku ada usaha join -an sama temanku. Sayang, kan, kalau dihanguskan akunnya. Follower -mu, kan, udah seribu lebih," celoteh Dinda, adik bungsuku suatu hari. Ya, jadi begitulah ceritanya bagaimana aku masih bisa mengintip kehidupa...
puisinya bagus... pemilihan diksinya berkarakter... i like it
BalasHapusTerima kasih Pak Win...🙏🙏
Hapussetuju 👍 diksinya ajib ajib
BalasHapusbtw, mencuri lembar-lembar putih??
Terima kasih mas Dwi 🙏🙏
HapusIya, lembar2 putih. Maknanya bisa beragam sesuai perspektif masing2 pembaca. 😂 Bebaslah itu penafsirannya...
Pas banget di saya inih 😢
BalasHapusTerima kasih kak Isna sudah berkenan mampir ke coretan ini 🤓🙏👌
HapusDalem
BalasHapusSeberapa dalem kak? 😂
HapusMakasih banyak kak Zen udah mampir baca...🙏🙏