Postingan

Cara Mengatasi Sindrom Writer’s Block Versi Dymar Mahafa

Apa yang terjadi jika tiba-tiba berdiri dengan megahnya tembok tinggi yang menghalangi langkah kita ke depan? Tembok tinggi itu bernama jalan buntu. Dalam hal ini adalah sesuatu yang menghambat seorang penulis untuk memulai tulisannya. Ide? Kemana perginya ide itu ketika sangat dibutuhkan? Ironisnya, ide hanya akan datang saat kita tidak mengharapkannya. Dan pergi menjauh saat kita benar-benar mengidamkannya. Seperti cinta. (Atau Avatar, ya? Ah entahlah.) Satu hal yang pasti. Semua penulis, baik itu yang sudah lama kondang, setengah kondang, akan tenar, atau masih berwujud daun muda, semua pasti tidak mampu berkutik ketika dihadapkan pada jalan buntu. Yang oleh para pakar bidang kepenulisan menyebutnya dengan istilah Writer’s Block. Apa itu Writer’s Block? Writer’s Block atau WB adalah suatu keadaan dimana tiba-tiba dan seketika semua ide dalam kepala serasa mati, muksa , musnah entah kemana. Dan kita tidak bisa mengatasinya dengan sigap. Bengong. Dan membuat ayam teta...

Kenihilanku

Ketika aku terdiam. Renungan mengikat memori ingatanku. Dan untuk kesekian kalinya aku bertanya pada pantulan diriku yang lain. Siapa aku? Ketika aku bungkam. Entah tak tahu arah. Tak tahu jalan pulang. Dan untuk kesekian kalinya aku berkata pada percik air yang tengah menyandera bayang-bayangku. Apakah aku ini? Ketika aku terbangun dari mimpi burukku di malam hari. Tak satupun memori hitam itu sudi pergi dari alam bawah sadarku. Dan saat semua orang menguliti kekuranganku dan menikamku dari belakang, untuk kesekian kalinya aku mengadu kepada angin. Untuk apa aku di sini? Saat semua nampak abu-abu. Berdiri di antara garis hitam dan putih. Menggelar permadani berbalut luka. Mengukir pahat patung bernama manusia. Untuk kesekian kalinya aku meneriaki matahari tenggelam. Kenapa tak kau ajak aku tenggelam bersamamu? Jangan tinggalkan aku mematung di sini! Saat aku memohon. Permohonanku bagai debu tak berarti. Yang hanya akan dipandang tak penting. Tak punya harapan, bahkan setitik k...

Kunci Aku!

Gambar
"Kunci aku!" Pekikan tertahan itu berasal dari Fa. Begitulah ia biasa disapa. Hanya sesingkat itu. Fa. Suara gadis itu terdengar parau. Entahlah, tak biasanya ia memproduksi warna suara yang demikian. Mungkin efek dari panik. Atau karena flu-nya pagi ini. Frekuensi suara Fa memang tidak pernah naik melebihi gelombang infrasonik. Bahkan saat panik sekalipun. Tak heran, hanya telinga-telinga yang peka saja yang bisa mendengar suara kalemnya itu. Dan kebetulan telinga Kei sedang peka siang ini. Kei tahu. Fa bukan tengah membaca judul puisi. Atau mendeklamasikan isi hatinya. Atau memerintah. Tidak. Bukan itu. Kei tahu. Namun ia diam saja. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia tidak mendengar suara Fa. Namun malaikat Atid mendengar sumpah palsu Kei. Malaikat Atid merekam menggunakan smartphone canggih pemberian Tuhan. Dehaman, jeda, titik, koma, semua terekam abadi disana. Kei melirik kantong celana sebelah kiri, kemudian merabanya. Maaf Fa, aku terpaksa mengambil ini... Ke...

Coretan Antah Berantah

"Never Flat" Hari ini hari terakhir Ramadhan di tahun ayam api 2017. Entah apa yang 'merasuki' pikiran Anak Baru Gede ini. Mungkin karena efek terlalu kekinian yang melebihi batas maksimal. Beberapa hari ini anak itu sering salah mengartikan suatu istilah atau pengertian dari penyebutan suatu istilah. "Never Flat." Tiba-tiba adik perempuan semata wayang menyeletuk. Dengan logat ala British yang dilebih-lebihkan. Tapi pelafalannya betul. Seketika itu gue tergelak. "Apanya yang Never Flat?" tanya gue sembari mengoperasikan smartphone . "Bukan apa-apa. Mbak jangan kudet deh. Hari gini nggak tau Never Flat." kata dia sambil meneruskan permainan Who Wants To Be A Millionaire di laptop gue. "Emang apa artinya?" gue udah curiga pasti bentar lagi jawabannya nggak beres. "Never Flat itu nama jajan itu, lho. Ih, masa nggak tau sih." See? I told you, she is —err... she has different sense. (Read: absurd) Lihat ...

Pena EfekTif ( baca: Efek Fiktif ) Ramadhan

"Efektifitas Menulis di Bulan Ramadhan." Ketika membaca sebaris judul di atas, apa yang pertama ada di benak para pembaca sekalian? Kisah-kisah islami? Atau, Cerita diary ala santri ponpes? Atau, Sepenggal tulisan curcol seorang penulis galau di Bulan Suci? Bukan maksud apa-apa, hanya sekedar intermezo saja. Karena nantinya tulisan ini akan cenderung mengarah ke poin yang ketiga. Curcol. Ya. Satu diksi yang tak akan pernah ditemukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia, kecuali KBBI edisi revisi dan secara khusus diterbitkan oleh penerbit yang dikepalai orang nyentrik (baca: alay). CurCol atau Curhat Colongan, merupakan hasil revisi atau perbaikan dari kata serap sebelumnya. Yakni, CurHat (Curahan Hati). Heran. Bahasa nyentrik (baca: alay) memang agak sadis serta berkepribadian ganda. Mirip psikopat bebal nan terkutuk. Mengapa demikian? Karena dia secara tiba-tiba mudah berubah, suka main potong, memutilasi dan sambung sana-sini. Alhasil seperti kata CurCol tersebut....

You are REAL - 21 (end)

"Mbak Dara?" tiba-tiba Real muncul di belakangku. Reflek, ku putar badanku menghadapnya. Pagi yang dingin. Angin bulan Desember begitu menusuk sekujur urat nadi. Darahku serasa turut beku. Mungkin sekarang efeknya sudah merembet ke ulu hati dan cerebellum. Keseimbanganku hilang. Menguap, melayang jauh terseret angin beku bulan Desember. Ragaku mati rasa. Pikiranku berkelana entah kemana. Tak tentu arah, pun tak tentu tujuan. Batinku menjerit meminta pertolongan. Namun leherku serasa dicekik tangan-tangan tak kasat mata. Hingga air mataku nyaris merembesi sudut-sudut mataku. Ku tatap raut wajahnya sekilas. Hatiku tercabik. Pedih. Sakit. Lidahku kelu. Pita suaraku tercekik. Sulit sekali rasanya hanya untuk mengucap satu patah kata saja. Aku membisu. Hatiku hampa. Real. Laki-laki itu. Laki-laki yang tak terbaca. Perpaduan yang aneh antara misterius, angkuh, pendiam, idealis, ego selangit sekaligus halus budi. Janggal. Otakku berdenging. Seakan bergulung-gulung lembar...

You are REAL - 20

(*Anak Wasiat*) *** Kala aku berusia satu tahun, kakekku meninggal. Ayah dari ibuku. Kakek memang sudah lama sakit. Tentu saja aku tidak mengingat kejadian itu karena aku masih kecil. Namun setiap kali ayahku menceritakan ulang kejadian kala itu, aku mendengarkannya dengan seksama. Begini kisahnya. Ada satu hal yang kakek wasiatkan kepada anak-anaknya sebelum beliau tiada. Yaitu aku, cucu terakhirnya. "Tolong bantu adikmu, si Marni, sampai jadi orang. Kalian semua sudah Pegawai Negeri, tinggal Marni saja yang belum. Bapak titip Dara. Tolong bantu kebutuhan Dara. Anggap seperti anakmu sendiri." Begitu ujar kakek kepada keenam anak-anaknya. Di sana juga ada para menantunya. Marni adalah ibuku. Beliau anak terakhir atau ragil dari enam bersaudara. Di usianya yang masih belia, beliau sudah ditinggal ibunya. Nenekku meninggal ketika ibuku masih berusia 11 tahun. Dan kemudian ibu dibesarkan dan dirawat oleh saudara-saudaranya. Beberapa tahun setelah itu, kakekku menik...

1 Doa Untuk 27 Harapan

“ Happy Birthday , ya, Ra!” Astrid memeluk sahabatnya seraya menyodorkan kotak berlapis kertas mengkilap. Itu adalah kado ulang tahun Dara yang ke sekian di hari itu. “Moga doa-doamu terkabul tahun ini.” imbuh Astrid pada Dara. “Dan cepet dapet, ya.” bisiknya kemudian. “Dapet apa?” otak Dara sedang tidak berfungsi dengan baik. Astrid mengerling. Ada binar konyol di matanya. Astrid memandang sahabatnya itu dengan tawa geli. Perayaan ulang tahun Dara kali ini agak sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Istimewa, mungkin bisa dibilang demikian. Pasalnya, usia gadis muda itu telah menginjak angka 27. Darra Diamoniq. Cantik. Santun. Pandai menempatkan diri. Tabiatnya anggun, mempesona. Lulusan S2. Seorang alumni Univesitas yang cukup bergengsi. Dan setelah ini ia akan bersiap untuk melanjutkan studinya yang terakhir guna meraih gelar Doctor. Namun, sangat disayangkan. Sungguh sangat amat disayangkan. Masih ada satu hal yang terasa begit...