Postingan

Coretan Antah Berantah

"Never Flat" Hari ini hari terakhir Ramadhan di tahun ayam api 2017. Entah apa yang 'merasuki' pikiran Anak Baru Gede ini. Mungkin karena efek terlalu kekinian yang melebihi batas maksimal. Beberapa hari ini anak itu sering salah mengartikan suatu istilah atau pengertian dari penyebutan suatu istilah. "Never Flat." Tiba-tiba adik perempuan semata wayang menyeletuk. Dengan logat ala British yang dilebih-lebihkan. Tapi pelafalannya betul. Seketika itu gue tergelak. "Apanya yang Never Flat?" tanya gue sembari mengoperasikan smartphone . "Bukan apa-apa. Mbak jangan kudet deh. Hari gini nggak tau Never Flat." kata dia sambil meneruskan permainan Who Wants To Be A Millionaire di laptop gue. "Emang apa artinya?" gue udah curiga pasti bentar lagi jawabannya nggak beres. "Never Flat itu nama jajan itu, lho. Ih, masa nggak tau sih." See? I told you, she is —err... she has different sense. (Read: absurd) Lihat ...

Pena EfekTif ( baca: Efek Fiktif ) Ramadhan

"Efektifitas Menulis di Bulan Ramadhan." Ketika membaca sebaris judul di atas, apa yang pertama ada di benak para pembaca sekalian? Kisah-kisah islami? Atau, Cerita diary ala santri ponpes? Atau, Sepenggal tulisan curcol seorang penulis galau di Bulan Suci? Bukan maksud apa-apa, hanya sekedar intermezo saja. Karena nantinya tulisan ini akan cenderung mengarah ke poin yang ketiga. Curcol. Ya. Satu diksi yang tak akan pernah ditemukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia, kecuali KBBI edisi revisi dan secara khusus diterbitkan oleh penerbit yang dikepalai orang nyentrik (baca: alay). CurCol atau Curhat Colongan, merupakan hasil revisi atau perbaikan dari kata serap sebelumnya. Yakni, CurHat (Curahan Hati). Heran. Bahasa nyentrik (baca: alay) memang agak sadis serta berkepribadian ganda. Mirip psikopat bebal nan terkutuk. Mengapa demikian? Karena dia secara tiba-tiba mudah berubah, suka main potong, memutilasi dan sambung sana-sini. Alhasil seperti kata CurCol tersebut....

You are REAL - 21 (end)

"Mbak Dara?" tiba-tiba Real muncul di belakangku. Reflek, ku putar badanku menghadapnya. Pagi yang dingin. Angin bulan Desember begitu menusuk sekujur urat nadi. Darahku serasa turut beku. Mungkin sekarang efeknya sudah merembet ke ulu hati dan cerebellum. Keseimbanganku hilang. Menguap, melayang jauh terseret angin beku bulan Desember. Ragaku mati rasa. Pikiranku berkelana entah kemana. Tak tentu arah, pun tak tentu tujuan. Batinku menjerit meminta pertolongan. Namun leherku serasa dicekik tangan-tangan tak kasat mata. Hingga air mataku nyaris merembesi sudut-sudut mataku. Ku tatap raut wajahnya sekilas. Hatiku tercabik. Pedih. Sakit. Lidahku kelu. Pita suaraku tercekik. Sulit sekali rasanya hanya untuk mengucap satu patah kata saja. Aku membisu. Hatiku hampa. Real. Laki-laki itu. Laki-laki yang tak terbaca. Perpaduan yang aneh antara misterius, angkuh, pendiam, idealis, ego selangit sekaligus halus budi. Janggal. Otakku berdenging. Seakan bergulung-gulung lembar...

You are REAL - 20

(*Anak Wasiat*) *** Kala aku berusia satu tahun, kakekku meninggal. Ayah dari ibuku. Kakek memang sudah lama sakit. Tentu saja aku tidak mengingat kejadian itu karena aku masih kecil. Namun setiap kali ayahku menceritakan ulang kejadian kala itu, aku mendengarkannya dengan seksama. Begini kisahnya. Ada satu hal yang kakek wasiatkan kepada anak-anaknya sebelum beliau tiada. Yaitu aku, cucu terakhirnya. "Tolong bantu adikmu, si Marni, sampai jadi orang. Kalian semua sudah Pegawai Negeri, tinggal Marni saja yang belum. Bapak titip Dara. Tolong bantu kebutuhan Dara. Anggap seperti anakmu sendiri." Begitu ujar kakek kepada keenam anak-anaknya. Di sana juga ada para menantunya. Marni adalah ibuku. Beliau anak terakhir atau ragil dari enam bersaudara. Di usianya yang masih belia, beliau sudah ditinggal ibunya. Nenekku meninggal ketika ibuku masih berusia 11 tahun. Dan kemudian ibu dibesarkan dan dirawat oleh saudara-saudaranya. Beberapa tahun setelah itu, kakekku menik...

1 Doa Untuk 27 Harapan

“ Happy Birthday , ya, Ra!” Astrid memeluk sahabatnya seraya menyodorkan kotak berlapis kertas mengkilap. Itu adalah kado ulang tahun Dara yang ke sekian di hari itu. “Moga doa-doamu terkabul tahun ini.” imbuh Astrid pada Dara. “Dan cepet dapet, ya.” bisiknya kemudian. “Dapet apa?” otak Dara sedang tidak berfungsi dengan baik. Astrid mengerling. Ada binar konyol di matanya. Astrid memandang sahabatnya itu dengan tawa geli. Perayaan ulang tahun Dara kali ini agak sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Istimewa, mungkin bisa dibilang demikian. Pasalnya, usia gadis muda itu telah menginjak angka 27. Darra Diamoniq. Cantik. Santun. Pandai menempatkan diri. Tabiatnya anggun, mempesona. Lulusan S2. Seorang alumni Univesitas yang cukup bergengsi. Dan setelah ini ia akan bersiap untuk melanjutkan studinya yang terakhir guna meraih gelar Doctor. Namun, sangat disayangkan. Sungguh sangat amat disayangkan. Masih ada satu hal yang terasa begit...

You are REAL – 19

Sesuai janji, akan aku kisahkan kepada kalian tentang tanda jodoh nomor empat. Seperti yang sudah aku paparkan di dua episode REAL sebelumnya, ‘kebetulan’ kali ini akan tetap klise dan sedikit mencengangkan. Jadi, duduklah yang nyaman dan selamat membaca. Entah kenapa dan ada apa dengan skenario Tuhan hari itu. Yang jelas, deretan kebetulan serasa datang bertubi-tubi bagai hujan meteor. Istilahku terlalu berlebihan, kurasa. Yah, maafkan. “Bu Dara, tadi nggak ada anak yang ke sini, ya?” tanya Real memecah keheningan di ruangan penuh buku, perpustakaan. Lagi-lagi begini. Lagi-lagi keadaan serasa menyeretku dalam satu situasi seperti ini. Kenapa aku dan dia selalu saja berakhir di tempat ini? Entahlah, satu misteri yang belum juga ku temukan jawabannya hingga detik ini. Hanya ada aku dan Real, berdua, di ruangan yang luas ini. Dimana lagi? Perpustakaan, tentu saja. Dengan siapa lagi? Real, tentu saja. “Siapa, Pak? Anak OSIS, ya?” jawabku, masih tetap memunggunginya. D...

You are Real - 18

Satu kebetulan lagi yang kembali menamparku hari itu. Hari Senin. Di bulan April yang cerah, musim hujan labil dan Ujian Sekolah anak-anak kelas 9. Aku kembali ditampar oleh satu perkataan dari rekan guru di sekolah ini. Beliau dulu merupakan guru yang mengajar mapel kesenian sewaktu aku masih bersekolah di sini. Satu pembicaraan yang berhasil membuatku tersipu. Tentang siapa lagi? Real, tentu saja. Pagi itu Ujian Sekolah Berbasis Komputer sesi pertama tengah berlangsung. Aku duduk diam menunggui komputer server di sudut kanan bagian depan ruangan. Bu Yanu selaku pengawas hari itu, menghampiriku. "Mbak, panjenengan punya daftar nama anak-anak kelas 7?" tanya beliau seraya duduk di sebelahku. "Nggih, ada, Bu. Di komputer perpus." "Nanti saya ng- copy ya." "Oh, nggih. Monggo." jawabku seraya mengulum senyum. "Mbak, nanti saya minta nilai anak-anak yang ujian kemaren. Yang seni budaya. Ada ya, Mbak, di komputer sini?" ta...

You are REAL - 17

"Oke, ini gimana enaknya, cetak atau nggak fotonya?" suara Real menengahi diskusi kami yang kedua bersama anak-anak OSIS. Hari H acara ulang tahun sekolah yang ke-56, telah tiba. Lomba fotografi pun baru saja selesai siang ini. Kami berempat kembali berkumpul di sini, perpustakaan. "Kira-kira dari OSIS ada dana berapa?" tanya Real, setelah beberapa saat tak ada tanggapan. Vani dan Jeva hanya saling pandang kemudian tersenyum. Yang artinya kas-OSIS-lagi-kosong-Pak. "Nggak ada, Pak. Anak-anak susah sekali kalo ditarik uang kas. Banyak yang nunggak juga. Kalo Pak Real yang bayarin juga nggak apa-apa lho, Pak. Dengan senang hati kami terima." kilah Vani, yang kemudian diamini Jeva. "Gimana, Bu Dara? Ada masukan?" todong Real. Lagi? Aduh, please Real... don't do that again. 😧 "Kalo menurut saya, sebaiknya di cetak saja. Karena sebagai penghargaan atas jerih payah teman-teman kalian. Mereka sudah capek-capek memotret, rela pana...