Postingan

Ngantuk

Hujan mengguyur Daun-daun yang gugur Senja tenggelam Dalam hitam langit malam Raga tertatih, letih Diam mendekam Lampu temaram Bantal bertumpuk Di atas matras kapuk Kepala takluk pada kantuk Mengigau makan ikan dengan sambal Liur merembesi sarung bantal * Oleh: Dymar Mahafa

Internet

Apa yang sedang dipikirkan kepala Hingga mata masih saja terjaga Kedua telinga dijejali alat pengeras suara Jemari sibuk menjelajahi dunia maya Tiap detik, tiap menit, tiap hari tak ada habisnya Mata pedas pun sudah dianggap biasa Dunia nyata seolah hanya sebuah simbol kecanggungan Bagaimana tidak, jika manusianya lebih suka berkelakar di dunia dalam genggaman Semua orang bebas melontarkan pendapat melalui kolom-kolom picisan Membuat geger seluruh negeri hanya karena ulah dua ibu jari Yang sering kali berakhir di dalam bui Hanya karena komentar kurang budi Jaringan satelit dengan pemancar yang mampu menjangkau seluruh penjuru belahan benua, sudah serupa langganan koran harian Anak-anak jaman ini lebih memilih tak makan daripada tak bisa instagram- an Kebutuhan kuota seolah membenarkan prinsip ekonomi terapan Semakin banyak permintaan, semakin mudah didapatkan Bahkan ponsel pintar kini kian menjamur Belum puas dengan fasilitas, sudah muncul yang paling baru lagi de...

Hujan

Pasukan serdadu bertopeng seribu Bergerilya dari balik semak kelabu Bertahan merapatkan posisi hingga waktunya tiba nanti Meneliti kapasitas amunisi kalau-kalau ada yang belum terisi Kemudian menyerbu Melancarkan peluru hingga senja membekas ungu Warga kota panik hingga lari terbirit Berusaha menghindari serangan peluru diiringi lolong jerit Sebagian peluru merembesi bahu Sepertiga yang lain berhasil mengenai sepatu Satu per satu mencari tempat berlindung Sebagian yang lain nekat menerjang di tengah-tengah amukan guntur dan perang mendung Di depan toko buku berjubal kaki-kaki tanpa sepatu Emper ruko industri tahu diserbu para serdadu Sementara aku yang kuyu Menyaksikan semua kekacauan itu Sembari menggigil di balik bingkai kaca ruang tamu ` Kediri, 20 September 2018. 17:45. D y m a r       M a h a f a

The Girl Who Lived In My Eyes

Bring me to the moment When I can hear you say "I will" Show me the moment When I can believe in what I deliver and think that you are real I know it's not easy for you to show me I know it's not the way you gonna be Perhaps your doubts are all you need to make me stay away Perhaps your rough words are only the way to show your dignity Is that enough to call me in silence? Is that enough to build our closeness through ignorance? But for me, that's not enough But me without you is only a half So, what should I do? Should I just laugh? What if I wanna stare at your bright eyes longer this time What if I need you too much to be a part of my serenity I do wanna stop the clock and lock the moment when you're around me Would you please be my forever? Or it will just be the sadest secret story in the end... To: Eliane Ranupatma From: Arion A. AlJanta - Airport Proposal - (a novel)

CPNS 2018

Bolehkah bibir melontar tanya Tentang hitam di atas putih Yang dipertaruhkan dalam pagelaran nasional tahun ini Di mana menentukan pilihan bagai berdiri di atas duri Tak tahu pasti apakah nanti garis hoki akan berakhir di tempat yang sesuai keinginan hati Ataukah hanya bermain-main dengan garis hidup atau mati Dalam kiblat lembar-lembar dokumen negara Kikirkah arti dari sebuah pencapaian Jika didasari atas niat mengungguli, adu pikir, adu taktik politisi, hingga dianggap sebagai calo kolusi Masih berhakkah bibir melempar sanggahan Jika selembar dokumen legalisasi telah disepakati sebagai jaminan Dasar pembuktian diri namun bukan kompensasi Seluruh negeri tenggelam dalam teriakan  vini, vidi, vici Kualitas pribadi dipandang atas dasar angka intelegensi Kecakapan dinilai dalam perhitungan sistem digitalisasi Kecanggihan seleksi penerimaan calon abdi abad ini Kegagalan seolah telah dinobatkan sebagai semboyan Keberhasilan dinyatakan melulu sebagai sebuah keberuntu...

Yang Tersisa Dalam Perjalanan

Ketika raga tak kuasa menelan makna kecewa Biarkan waktu perlahan menyembuhkan Ketika tangan perpisahan tak rela melepaskan rangkaian kalung bunga Kaki kehampaan dipaksa memanjat dinding pergolakan Telinga kebodohan mendengar jerit lara tanpa merasakan apa-apa Air mata tertahan, mengalir perlahan Biarkan bibir menorehkan keikhlasan Walau tak terucap kata selamat jalan Biarkan hati menyimpan potret kenangan Walau jiwa harus siap memenjarakan penyesalan Ketika mata tak lagi mampu menyiratkan kelapangan Biarkan doa berperan sebagai penyampai kekuatan *** Oleh: Dymar Mahafa

Berkelakar Dengan Cermin

Kau siapa? Lancang sekali mendeklarasikan diri sebagai pemintal aksara Padahal benang-benang makna pun tak punya Siapa yang kau puja? Para punjangga kata-kata Atau penyair benang-benang asmara? Isi kepalamu melulu soal cinta, cinta dan cinta Pikiranmu diracuni, ditaburi lem tikus Hingga makna aksaramu semakin aus Benang-benang diksinya nyaris putus Namun tak pernah kau urus Tak tahu beda antara homonim dan sinonim Bahkan antonim kau lafalkan akronim Kejelianmu sungguh minim Namun dengan bangga memproklamirkan diri sebagai pakar aksara, ahli sastra Lebih parahnya lagi berbangga diri sebagai penyair atau pujangga Intuisimu saja tak setajam ujung pena Diksi bahasamu porak poranda Bekal tata bahasa pun entah kau buang di mana Tapi dengan percaya diri kau anggap dirimu langit di atas samudra Mencemari ranah sastra seisinya Mendaraskan sebait aksara pincang yang ditoreh dengan pena kedunguan Yang abadi di atas perkamen kepongahan *** Oleh: Dymar Mahafa

Kanvas Klise Pertamaku

Gambar
Aku masih ingat kanvas pertamaku. Yaitu buku gambar istimewa harga seribu. Gores pensil yang tertoreh di atasnya adalah lukisan klise tentang sawah dan gunung kembar dengan matahari yang suka mengintip di tengahnya. Tunggu, seingatku juga ada jalan dengan perspektif di antara ladang persawahan. Jalan itu selalu digambarkan dalam dua versi, terkadang beraspal, terkadang juga masih berupa jalan makadam yang terjal. Suka-suka si pelukis ingin memilih versi yang mana, atau siapa peduli jika kami meniadakan jalan itu. Tidakkah kau juga mengingat pola gambar klise yang itu? Aku tak bermaksud membahas tentang mengapa guru seni rupa jaman dulu selalu mengajarkan anak didiknya untuk menggambar dengan tema yang nyaris selalu sama; silakan menggambar bebas. Atau tentang mengapa sebagai anak didik, kami selalu membuat keputusan yang seragam, ketika jam pelajaran seni rupa tiba; menggambar bebas. Walau kemudian kami, sebagai anak didik yang lugu dan sama sekali belum terpanggil k...