Aku masih ingat kanvas pertamaku. Yaitu buku gambar istimewa harga seribu. Gores pensil yang tertoreh di atasnya adalah lukisan klise tentang sawah dan gunung kembar dengan matahari yang suka mengintip di tengahnya. Tunggu, seingatku juga ada jalan dengan perspektif di antara ladang persawahan. Jalan itu selalu digambarkan dalam dua versi, terkadang beraspal, terkadang juga masih berupa jalan makadam yang terjal. Suka-suka si pelukis ingin memilih versi yang mana, atau siapa peduli jika kami meniadakan jalan itu. Tidakkah kau juga mengingat pola gambar klise yang itu? Aku tak bermaksud membahas tentang mengapa guru seni rupa jaman dulu selalu mengajarkan anak didiknya untuk menggambar dengan tema yang nyaris selalu sama; silakan menggambar bebas. Atau tentang mengapa sebagai anak didik, kami selalu membuat keputusan yang seragam, ketika jam pelajaran seni rupa tiba; menggambar bebas. Walau kemudian kami, sebagai anak didik yang lugu dan sama sekali belum terpanggil k...