Postingan

Aturan Meja Makan

Gambar
Sepinggan nasi goreng tersaji di hadapanmu Kau kikis seujung sendok lalu melahapnya begitu lamban Tidakkah kau lapar? Tak perlu betingkah semanis itu untuk menyenangkan orang-orang Kau sisihkan tiap irisan cabai merah Hanya karena kau tak menyukainya Sampai hati kau meletakkan mereka di tempat sampah Tidakkah kau terlalu berlebihan? Tapi aku tak menyukainya, racaumu bersikukuh Kau makan seperti sedang menghitung butir nasi Makanlah dengan lahap, nikmati Tak usah merisaukan komentar orang-orang, atau merasa bersalah pada diri sendiri Kau hanya membuang waktumu jika begini Sesekali makanlah bersama mereka Yang kau percaya, yang maklum dengan semua tabiat itu Biarkan mereka mendengar suara denting sendok garpumu Biarkan mereka menikmati waktu mereka bersamamu Biarkan mereka mengetahui sisi lain dari dirimu Biarkan mereka menerima dirimu sebagai kamu Kediri, 31 Maret 2018. 17:31 Oleh: Dymar Mahafa

Semanggi Daun Empat

Gambar
Renta rasa tak bernama terselip di antara detik-detik yang terus berdetak Seolah meninggalkanku meringkuk bersama kesunyian Angan penuh sesak akan andai dan tanya tanpa jawaban Sebersit kesedihan atas nama kerinduan membunuhku perlahan Entah sudah sekian purnama Entah sudah berapa puluh kali sang surya muncul dan tenggelam Siang yang hambar atau malam yang penuh air mata Entah sudah berapa kali namamu terdaras dalam doa Aku marah, anganku yang serakah Gelisahku yang berkejaran Tanda tanyaku yang terlampau besar Air mata tak ubahnya hujan deras semalaman Apa kau nyata, atau hanya ilusi semata Raga tak ubahnya rumah kosong yang diperjual-belikan Alih-alih menginginkan pemilik yang pantas, ia perlahan rapuh dalam penantian panjang Hingga jadilah ia si buruk rupa Yang tua, tak terawat dan catnya mengelupas Masih pantaskah ia berharap Masihkah ia diinginkan Masihkah ia berharga Akankah calon pemilik menyukainya Sudikah calon pemilik merawatnya kelak Hingga ia bukan...

BEBAS

Gambar
Aku tak lagi berdiri di persimpangan jalan Yang gelap, mencekam, tiada berujung Aku tak lagi menyendiri bersama kesunyian Yang cacat, bias, meretas pias Bukan waktu yang tepat tuk tanya mengapa Bukan waktu yang pas tuk berkoar tentang jalan buntu atau jalan pintas Adalah detik saat aroma wangi udara menari indah di atasku Adalah ketika kaki berayun dan suaraku memekik, aku bebas! Kediri, 30 Maret 2018. 09:22 Oleh: Dymar Mahafa

Lotus

Gambar
Jejak lembaran daun terserak Serupa batu loncatan Dalam serangkaian gambar diri di atas air kolam Kecipak kehidupan berenang-renang di bawah naungku Makhluk hijau lumut melompat-lompat, menempelkan kaki selaputnya pada tulang daunku Menjejak, mencari keseimbangan Mentari begitu ramah hari ini Menyalamiku sebagai kawan lama Air lumpur, sahabat karib Di tempat keruh penuh penyakit, aku tumbuh Di atas air tenang dan kotor, aku hidup Aku hidup namun seolah mati Mereka menganggap diriku kotor dan tidak berharga Namun tenggelam, bukan takdirku Betapapun buruk rupanya tempat aku dilahirkan Aku bisa tumbuh dengan baik Hidup dengan cantik, jiwa yang bersih Berbagi keindahan bagi sekitarku Bertahan di tengah kotornya caci maki, lagi gumpalan penyakit hati Kediri, 28 Maret 2018, 08:52 Oleh: Dymar Mahafa

Gelebah

Berangkat dari lamun bayang-bayang biru masa silam Kecipak kaki menjejak butir bening samudra lara, duka nestapa Deru ombak nyaris menenggelamkan kapal asa pengembara tepian Pengemis harapan, pemulung ketiadaan Gelegar guntur pertanda langit sedang murka Atap hitam pekat terbelah kilat Denting garpu tala seakan menghalau lamun senja Kabar lintas darat tak ubahnya kicau penyulam ruam Para penyamun kabar gembira Sendu menyapu bahagia Sepi merangkul hampa Rindu akan kemuskilan Bagai pelukis tanpa kuas dan kanvas Bagai pemusik kehilangan dawai Merpati dengan sayap-sayap patah Angsa yang sekarat Kelopak mawar yang mengering, tersapu angin Kediri, 25 Maret 2018. 01:00 Oleh: Dymar Mahafa

Jemu Rutinitas

Dan padat tugas menginterupsi lamun Tak banyak ruang untuk jiwa pengembara dunia tak berbatas Jemu Detik-detik berganti menit Waktu bagai putaran gasing Namun senja bermurah hati Bulir-bulir hujan mengantarku ke dunia mimpi Aku larut dalam buai selimut persegi Kediri, 22 Maret 2018. 18:46 Oleh: Dymar Mahafa

Sepenggal Pagi yang Tak Biasa

Gambar
Aku bernapas, sejuk partikel embun Mengisi dinding-dinding sunyi dalam dada Mencoba meresapi ritual mukadimah fajar dan dini Bunyi merdu paruh-paruh mungil makhluk bersayap tertangkap pendengaran Seperti biasa, seperti rutinitas yang tak ada beda Seperti biasa, seperti hari-hari biasa, seperti hari-hari lusa Damai, seperti pagi-pagi yang biasa Aku menghela, masih saja aku kagum Berdiri di hadapan, kokoh tegak makhluk tinggi menjulang Kabut embun masih tak bosan menggodai sulur-sulurnya Membasahi helai-helai bagian teduhnya yang hijau Walau demikian kabut tak mampu menutupi kecantikan laku halus yang terpancar dalam dirinya Kepalaku selalu angkuh mendongak Seolah menantangnya adu kuat Namun ia senantiasa merunduk Seolah merangkulku dalam kerendahan hatinya yang bersahaja Rasanya diriku tenggelam dalam damai bersamanya Maksud hati membalas kemurahan hatinya Namun satu demi satu aksaraku menghilang Sebaris lisan coba ku tuturkan Curah rasa syukurku padanya Namun ta...

Dari Sang Lembayung

Gambar
Ku berbisik pada kelopak bunga bokor Menitipkan sebait lisan untuk yang di seberang Tak perlu risau jika tak dapat kau pahami bait itu dengan logikamu Hortensia dengan senang hati bersedia mengulangnya hingga kau bosan Karena telah aku bisikkan bait itu pada seribu mahkotanya Ku harap bait itu bisa sampai di tanganmu Sebelum kelopaknya menua Kemudian mengering, berubah warna lalu gugur Karena kelopaknya yang lembayung bisa berubah kapanpun Entah menjadi merah jambu atau biru Tergantung dari caramu menempatkannya Jika ia telah sampai di istanamu Jamulah ia dengan air yang cukup Ingatlah untuk berhenti sebelum akarnya membusuk, kelopaknya layu, daunnya menguning lalu mati Hingga akhirnya bait itu hanya akan menjadi debu memori Membaur dengan udara dingin Lenyap disapu tetes kelindan hujan Hancur bersama amukan jago merah Kehilangan jejak karena terkubur bersama semut dan cacing Kediri, 20 Maret 2018. 19:58 Oleh: Dymar Mahafa