Dia yang menyeret aku ke penjara ini Aku terkurung bersamanya, juga bersama kegilaan ini Pikiranku dirantai, Kedua tanganku terikat birokrasi, Ambisinya membatasi gerak kaki, Angan-anganku; entah ingin ke mana mereka berlari, Tak ada jalan keluar dari sini Tidak, sepenggal asa sudah mati Aku telah masuk jurang apati Bersama dia, bersama semua yang fana Kosong mata tengadah Tigapuluh enam purnama berlalu sudah Meninggalkan aroma asap sumpah serapah Mengukir dinding-dinding beton tinggi nan megah Bersama guyuran cat merah darah Seperti baru semalam aku merengek di depan pintu-Mu Memohon supaya restu-Mu menjadikanku hamba yang tahu Bukan membusuk dalam sembilu Apalagi bersama dia, yang juga adalah hamba-Mu Tetapi apa yang dilontarkan lisanku Justru racau seorang pengigau Sia-sia aku membuang rasa malu Dia menyita paksa wawasanku Keahlianku, Piawaiku, Keindahanku, Lantas kemudian Dia tukar dengan dungu Tak ada guna mendekam di ladang benalu Apalagi dia, lagi...