Postingan

Cara Capai Passing Grade di Tes SKD CPNS 2018

Dalam tes SKD CPNS, para peserta akan mengerjakan soal menggunakan sistem CAT. Dengan kata lain, setelah peserta menyelesaikan soal, hasil akan otomatis muncul di layar komputer. Adapun perhitungan lulus tidaknya peserta dalam tes SKD mengacu pada passing grade atau nilai ambang batas. Saat tes SKD, para peserta harus mengerjakan 100 soal yang terbagi dalam tiga bidang. Rinciannya, Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) 35 soal, Tes Intelegensia Umum (TIU) 30 soal, dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP) 35 soal. Berikut beberapa poin tips: 1. menjawab soal yang paling mudah. Jangan terpaku sama soal yang susah yang akan menghabiskan waktu 2. Biasanya soal yang lebih mudah dikerjakan yaitu Tes Kepribadian (TKP). Intinya tes ini bagaimana mengambarkan kepribadian anda yang sebagai pribadi yang Integritas, Jujur dan Tegas. Setiap jawaban TKP punya nilai, skor dari 1-5. Artinya manapun jawaban yang dipilih tetap memiliki nilai. Berbeda dengan TWK dan TIU, jika benar nilai 5 dan ...

Batin

Apakah isi dalam bejana itu? Yang sejatinya sempit, namun menampung isi samudra Gelombang rasa, gulungan murka, gores-gores luka, cinta, aksara serta bahasa Merasa mampu mengukur dalamnya Tetapi tak mampu menyentuh akarnya Suara-suara bergaung, melengking, menjerit, bergemuruh, emosi bergulung-gulung, pasang mengguncang, lalu surut Terdengarkah wahai piawai? Oleh: Dymar Mahafa

Kisah Yang Belum Lunas

Berawal dari kau yang rapi berdasi dan aku yang mengenakan hak tinggi Kita ini pasangan serasi Sepasang cincin adalah saksi janji suci Di mataku kau tampan bak pangeran Sedang di matamu parasku serupa putri Kita berjalan meniti jurang ego dan berbagi sendok nasi Hingga nanti, sampai maut mengakhiri Kau berkelakar tentang siapa di antara kita yang akan berpulang Kau berujar bahwa aku yang akan berumur panjang Sementara kau yang terlebih dulu menghilang Sesekali kau bertanya apa aku bahagia hidup denganmu Aku tak selalu menjawabmu dengan anggukan Bahkan seringnya aku mengeluh tentang lelahnya mengerjakan urusan dapur, berbelanja bulanan ditambah mengurus si jabang bayi Aku senang kau mengerti Bahkan tak sedikitpun menilaiku tak ideal sebagai istri Sampai pada suatu hari Apa yang kau takutkan benar-benar terjadi Kau takut aku mungkin akan menghilang dari sisi Meninggalkanmu seorang diri bersama buah hati kita yang baru berumur dua hari Mungkin Tuhan tak senang jika...

Ego

Hal bodoh tak masuk akal yang sering kudengar Perdebatan melulu berakhir seperti ini Yang entah akarnya ada di mana Dan akan tumbuh seperti apa Walau aneh jika buahnya dikecap dengan nikmat Padahal rasanya sepah, tetap saja ditelan Bibir-bibir itu menyesap rasa curiga Sementara mulut menyantap syak wasangka Kenyang dengan menu yang itu itu saja Setiap hari, setiap kali bertemu muka atau bertegur sapa Nyaris tak ada jeda antara lisan dan kata-kata Walau tak selalu jelas apa maknanya Berhakkah diri mengutarakan kemutlakan? Diksi itu terlalu tinggi, bukan? Mutlak hanya diperuntukkan untuk Dia Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa Atau berhakkah jari melempar tudingan? Perihal ketidaksempurnaan dan telinga yang mendengar namun tuli atau mata yang melihat namun terbutakan Label baik dan buruk, bisa jadi relatif Empati serta simpati, mungkin saja objektif Namun sayang sekali jika lisan menggugat ciri melalui motif yang negatif Atau mencoba meneliti hal positif dengan sudut ...

Pesisir Gawai dan Wi-Fi

Gambar
Bagi mereka yang lapar, makanan dikunyah demi mencapai kata kenyang Tanpa tertarik lebih dalam perihal makna di balik kenyang yang sebenarnya Karena sejatinya jiwa juga butuh makanan yang mengenyangkan, tak hanya raga Bagi mereka yang kurang lapar, atau belum merasa lapar sama sekali, makanan dicerna hanya demi mengisi kekosongan perut semata Entah rasanya hambar, kurang garam atau bagaimana, lidah tak lagi berminat mengikat rasa Atau bisa saja lidah sudah mati rasa, tak lagi berselera merasai rasa? Hidup ini sejatinya untuk apa, hingga nyalanya temaram, samar, hilang rasa, hilang karsa, hilang selera Jika apa-apa saja tak bisa dieja (bahasa alay), tak puas paras dipuja (foto selfie), tak jeli mata membaca (korban hoax), jika salah tinggal berkata tak sengaja (komentar pedas sosial media), sudah begitu ingin hidup yang bersahaja Ah-- mana Tuhan rela? Ada-ada saja Apa makna bekerja? Uang memang raja, tetapi kakinya tak berarti harus disembah dan dipuja Gila, yang ...

Antara Lembur, Libur, dan Kasur

Hari Minggu Serasa kasur lebih menarik dari senyummu Senyum ambigu Bisa menyejukkan, bisa menyebalkan Karena senyummu hanya menarik di awal bulan Hari Minggu Adalah hari kasur sedunia Tak ada ragu untuk malas bergerak dari situ Tempat yang tepat untuk sejenak melupakanmu Hari Minggu Daripada waktuku habis bersamamu Sudah capai hati, capai sekali Remuk jasmani, kering rohani Hari Senin bertemu Sabtu Nyaris seminggu berduaan denganmu Bosan aku dengan mukamu Hari minggu Aku tak butuh kau Aku butuh kasur Titik Oleh: Dymar Mahafa

Tuhan Manusia

Jangan selalu membicarakan Tuhan Nanti Dia bisa tersedak Nanti lidah-Nya tergigit karena terlalu sering dipergunjingkan Mengapa Tuhan mesti dibawa-bawa? Perbuatan, tabiat, polah tingkah, tutur kata, semua diatas-namakan Tuhan Bersumpah ini, bersumpah itu Demi siapa? Lagi-lagi demi Tuhan Betapa lidah tak pernah bosan menyebut Tuhan, Tuhan dan Tuhan Seperti tak ada lagi topik pembicaraan Memang kau itu siapanya Tuhan Kenal dengan-Nya saja tidak, kan? Berlagak sebagai juru bicara Tuhan Mengadili timbangan amal orang-orang Mendosa-dosakan mereka seolah dirimu itu adalah Tuhan Tak tahunya hanya butir debu di atas batu karang Yang lenyap sekali santap Kemudian lebur dalam kuluman debur pesisir selatan - Tuhan Manusia - Oleh: Dymar Mahafa

Pohon Mangga Milik Tetangga

Tentang pohon mangga di pekarangan tetangga Yang dahannya terlalu lebat hingga mematuk atap rumah tua Sejatinya siapa pemilik pohon mangga? Tentu saja bukan dia, mereka atau bahkan kau Sekalipun pohon itu milik perseorangan Nyatanya tak sekalipun dipedulikan Seolah itu adalah pohon mangga tak bertuan Tapi dia mengaku bahwa itu adalah kepunyaannya Mereka mengklaim bahwa tanah pekarangan mangga itu adalah warisan buyut-buyutnya Sementara kau bingung, yang mana kebenarannya Sedangkan aku, hanya mampu berdiam menikmati bunyi kurang menyenangkan yang ditimbulkan oleh ranting mangga yang begitu bernafsu mencumbui asbes Dalam batin mengumpat, mendaraskan sumpah serapah Oleh: Dymar Mahafa